Jumat, 06 Mei 2011

yang ini punya mama part 1

"Mah... celana mama mengganggu nih. Aku buka saja ya mah?", tanyaku minta izin
sambil memandang ke arah nya.
Mama enggak segera menjawab, tapi kuperhatikan mama mengangguk sedikit.

Tanpa berlama-lama walaupun aku masih ragu, segera kutarik turun cdnya dan
ketika bagian bawah pantat mama sulit kutarik, mama malah membantunya dengan
mengangkat badannya sedikit sehingga cdnya dengan mudah kupelas dari kedua
kakinya. Lalu sekalian saja kulepas beberapa kancing baju tidur nya yang tersisa
dengan salah satu tanganku dan dengan cepat, kupelas juga kaos dan celana yang
melekat di tubuhku.

Dan cerita dewasa pun berlanjut dibawah ini, setelah lanjut baca

"Mah, kemana saja sih kok sudah sebulan ini baru datang?", tanyaku sengit ketika
Mama ku datang mengunjungiku di Bandung.
"Mama sudah dapat pacar baru ya? sampe enggak sempet datang? Pokoknya aku
enggak mau kalo Mama dapat Papa baru".
Mama ku terlihat kaget ketika aku marah, padahal beliau baru saja datang dari
Jakarta hari jumat sore itu. Tetapi ketika kepalaku di elus-elusnya dan mama
mengatakan minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sekaligus
juga mengatakan kalau mama tetap sayang denganku, perasaan marahku pun jadi
luluh.
"Masak sih Mas (namaku sebenarnya Pur tetapi mama selalu memangggilku Mas
sejak aku masih kecil), kamu enggak percaya sama mama? Mama terlalu sayang
padamu, jadi kamu jangan curiga kalau mama pacaran lagi", katanya terisak sambil
menciumi pipiku dan akhirnya kami berpelukan.
Setelah makan malam, lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu sambil melihat
acara TV.
"Mas, rambutmu itu sudah mulai banyak lagi yang putih... sini mama cabutin", kata
mama yang biasanya selalu mencabuti ubanku bila datang ke Bandung. Segera saja
aku bergegas ke kamar untuk mengambil cabutan rambut lalu duduk menghadap
kearah TV di lantai sambil sandaran di sofa yang diduduki mama.
Terus terang, aku paling senang kalau mama sudah mulai mencabuti ubanku,
soalnya bisa sampai ngantuk.
"Banyak betul sih Mas ubanmu ini?", komentar mama sambil mulai mencabuti
ubanku.
"Habis sih... Mama sudah lama enggak kesini... cuman ngurusin kerjaan melulu."
"Ya sudah, sekarang deh mama cabutin ubanmu sampai habis."
Kami lalu diam tanpa berkata kata.
"Mas""ngomong2 kamu sudah punya pacar apa belum?", tanya mama tiba2, sambil
masih tetap mencabuti ubanku di kepala bagian belakang.
"Belum kok Ma"..masih dalam penjajakan", sahutku.
"Tuh... kan. Kamu ngelarang mama cari pacar, tapi kamu sendiri malah mau
pacaran.", sahut mama dengan nada agak kesal.
"Pokoknya, mama enggak mau lho kalau kamu mulai pacaran, apalagi masih
sekolah bisa2 pelajaranmu jadi ketinggalan dan berarti kamu juga sudah enggak
sayang lagi sama mama", tambahnya.
"Enggak kok Ma, aku masih sayang kok sama mama."
"Sudah selesai Mas yang belakang, sekarang yang bagian depan", perintahnya.
Lalu kuputar dudukku menghadap ke arah Mama dan tetap duduk dilantai diantara
kedua paha mamaku serta Mamapun langsung saja meneruskan mencabuti
uban-ubanku.
"Mas, kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar
atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan?", kata mama tiba2.
"Atau kamu sudah jadi laki-laki yang enggak normal barangkali ya, Sayang?", lanjut
Mama.
"Ah, mama ini kok nanyanya yang enggak2 sih?", sambil kucubit paha mama yang
mulus dan putih bersih.
"Habisnya selama ini kan kamu enggak pernah cerita soal temen wanita kamu, Mas.", sahut mama.
"Aku ini masih laki-laki tulen Mah. Kalau mama enggak percaya, boleh deh
dibuktiin atau di test ke dokter.", tambahku sambil kuelus-elus paha mama. Kata
Mama, aku enggak boleh pacaran dulu, tambahku.
"Naaah... gitu dong Mas. Pacarannya nanti-nanti saja deh Mas, kalau kamu sudah
lulus".
"Tapi, kamu kan sudah dewasa, apa enggak kepingin meluk dan mencium lawan
jenis kamu", tanyanya lagi.
"Kadang-kadang sih kepingin juga sih Ma, apalagi banyak teman-temanku yang
sudah punya pasangan masing-masing. Tapi ngapain sih Ma, kok nanya2 gituan?"
"Ya... enggak apa apa sih, mama cuman pingin tahu saja.", sahut mama sambil
tetap mencari ubanku.
Karena aku duduk menghadap mama dan jaraknya sangat dekat, tanpa kusadari
mataku tertuju kebagian dada mama dan karena Mama ku hanya memakai baju
tidur putih yang tipis sekali, maka tetek dan puting susunya secara transparan
terlihat dengan jelas.
"Mah... ngapain sih Mama pake baju tidur ini?"
"Lho... memangnya kenapa mas dengan baju tidur mama ini? emangnya kamu
enggak suka ya Mas?", tanya mamaku, tanpa menghentikan kerjanya mencabuti
ubanku.
"Emangnya Mama enggak malu?"... tuh kelihatan?", sambil kututul puting tetek
mama yang terlihat menonjol keluar dari balik baju tidurnya dengan ujung jariku.
"Huuuusss, teriak mama kaget. Mama kirain kenapa? wong enggak ada orang lain
saja kecuali kamu dan bibi dirumah ini. Lagipula mama kan enggak keluar rumah.
Memangnya kamu enggak suka ya Mas?", sahut mama menghentikan kerjanya dan
memandang mataku.
"Wah"... ya suka bangeet dong Mah. Apalagi kalau boleh megang...", senyumku.
"Huussss...", sambil menjundul dahiku.
"Wong kamu ini masih kecil saja", tambahnya.
"Mah. Aku ini sudah mahasiswa lho.. bukan anak TK lagi, masak sih aku masih
kecil? kalo ngeliat sedikit kan enggak apa apa kan mah... boleh kan Mah?",
rengekku.
Mama tidak segera menjawab dan tetap saja meneruskan mencabuti ubanku seolah
olah enggak ada apa-apa.
Setelah kutunggu sebentar dan mama tidak menjawab atau melarangku, akhirnya
kuberanikan untuk menjulurkan tanganku kearah kancing baju tidurnya didekat
dadanya.
"Sebentar aja lho Mas ngelihatnya", ujarnya tanpa menghalangi tanganku yang
sudah melepas 3 buah kancing bajunya.
"Aduh Mah...putih betul sih tetek mama." komentarku sambil membuka baju
tidurnya sehingga tetek mamaku tersembul keluar. Aku enggak tahu ukurannya,
tetapi yang pasti tidak terlalu besar sehingga kelihatan tegang menantang serta
berwarna merah gelap di sekitar puting nya.
"Sudah ah Mas, tutup lagi sekarang", katanya sambil tetap mencabuti ubanku.
"Lho... Kok malah bengong, tutup dong Mas?", katanya lagi ketika kata-kata mama
enggak aku ikutin dan tetap memandang kedua tetek mama yang kupandang begitu
indah.
"Bentar dong Mah... aku belum puas nih Mah, melihat tetek mama yang begitu
indah ini. Boleh ya Mah pegang dikit?"
"Tuh kan... Mas ini sudah ngelunjak. Katanya tadi cuman mau ngelihat sebentar,
eeeh sekarang pingin pegang.", sahut mama sambil tetap melanjutkan mencabut
ubanku.
"Sebentar aja lho...", sahutnya tiba2 ketika melihatku hanya bengong aja
mengagumi tetek mama.
Setelah Mama mengizinkan dan dengan penuh keraguan serta tanpa berani melihat
wajah Mama, segera saja kuremas pelan kedua tetek mama dengan kedua telapak
tanganku.
"Aahh... sungguh terasa halus dan kenyal tetek mama", gumanku dalam hati. Lalu
kedua tetek mama kuelus2 dan kuremas2 dengan kedua tanganku.
Karena asyiknya meremasi tetek mama, baru aku sadar kalau tangan mama sudah
tidak lagi mencabuti ubanku lagi di kepalaku dan setelah kulirik, ternyata mama
telah bersandar di sofa dengan mata tertutup rapat, mungkin sedang menikmati
nikmatnya remasan tangan ku di tetek nya.

Melihat mamaku hanya diam saja dan memejamkan matanya, lalu timbul
keberanianku dan segera saja kumajukan wajahku mendekati tetek kirinya dan
mulai kujilat puting teteknya dengan ujung lidahku.
Setelah beberapa kali teteknya kuremas dan tetek satunya kujilati, kudengar
desahan mama sangat pelan "ssshhh... ssssshhhh... aaaahh.. Maaaass...
suuuudaaaahh..."
Desahan ini walaupun hampir tidak terdengar membuat ku semakin berani dan
jilatan di puting teteknya dan kuselingi dengan hisapan halus serta remasan di tetek
mama sebelah kanan pun kuselingi dengan elusan elusan lembut.
Tiba2 saja terdengar bunyi "kling" di lantai dan itu mungkin cabutan ubanku yang
sudah terlepas dari tangan mama, karena bersamaan dengan itu, terasa kedua
tangan mama sudah meremas remas rambutku dan kepalaku di tekannya kearah
badannya sehingga kepalaku sudah menempel rapat di tetek mama dan nafasku pun
sedikit tersengal. Desahan dari mulut mamaku pun semakin keras.
"Ssssshhh... ooooohh... aaaaahhh... Maaaaaassss..."
Desahan yang keluar dari mulut mamaku ini menjadikan ku semakin bersemangat
dan kugeser kepalaku yang sedang dipegangi mama kearah tetek yang satunya dan
tangan kananku kuremaskan lembut di tetek kiri mama dan tak henti2 nya desahan
mama terdengar semakin kuat dengan nafas cepat.
"Maaasss... aaaaahhh", desah mama dengan keras dan tubuhnya meliuk liuk, seraya
mendekap kepalaku sangat kuat sehingga wajahku tenggelam kedalam teteknya.
"Aaaahhhh", teriaknya dan diakhiri dengan nafasnya yang cepat dan tersengal-
sengal.
"Maaas, mama lemes sekali", kata mama dengan suara yang hampir tidak terdengar
dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal. "Maass, tolong bawa mama ke
kamar", tambahnya dengan nafasnya yang masih cepat.
"Ayoooo Maas. Cepat bawa mama ke kamar", katanya lagi dan tanpa berfikir
panjang akhirnya kubopong mama dan kuangkat ke tempat tidurnya dan dengan
hati2 kutidurkan terlentang di tempat tidurnya dan mata Mama masih tetap merem
tapi nafasnya yang cepat sudah sedikit mereda.
Aku enggak tahu harus berbuat apa, jadi aku hanya tiduran saja disamping mama
sambil ku elus elus dahi yang berkeringat dan rambutnya serta pandanganku tidak
pernah lepas dari wajah mama karena takut terjadi apa2, tapi sering juga mataku
tertuju ke tetek mama yang menyembul keluar dari baju tidurnya yang terbuka.
Nafas mama makin lama semakin teratur.
Tak lama kemudian mata mama mulai terbuka pelan-pelan dan ketika melihatku ada
disampingnya, mama tersenyum manis sambil tangannya dieluskan ke wajahku.
"Kenapa Mah. Aku sampai takut", kataku sambil kuciumi tangan yang sedang
memegang wajahku.
"Mama lemes sekali sayang... kaki mama gemetaran, tolong kamu pijitin mama",
perintahnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Tanpa membantah, segera saja aku berpindah ke dekat kaki mama dan ketika kedua
kakinya di geser kearah berlawanan, lalu kutempatkan dudukku diantara kedua
paha mama yang sudah terbuka lebar. Kulihat mama sudah menutup matanya
kembali.
Penisku yang tadi sudah tidur karena rasa takut, kembali mulai bangun ketika baju
tidur mama yang tersingkap dan cd nya terlihat jelas. Benar-benar merupakan
pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu
membuat jantungku serasa mau copot.
Karena enggak pernah tahu bagaimana caranya memijat, akhirnya kedua tanganku
kuletakkan di kedua paha mama dan kupijit-pijit dari bawah ke atas. Aku enggak
tahu, apakah pijitanku itu enak apa tidak, tetapi kelihatannya mama tetap
memejamkan matanya tanpa ada protes. Demikian juga ketika kedua tanganku
kusodokan di cdnya beberapa kali, mama pun tetap diam saja.
Memang godaan syahwat bisa mengalahkan segalanya. Penisku pun sudah begitu
tegang sehingga kugunakan salah satu tanganku untuk membetulkan arahnya
keatas agar tidak terasa sakit.
"Mah... celana mama mengganggu nih. Aku buka saja ya mah?", tanyaku minta izin
sambil memandang ke arah nya.
Mama enggak segera menjawab, tapi kuperhatikan mama mengangguk sedikit.


Tanpa berlama-lama walaupun aku masih ragu, segera kutarik turun cdnya dan
ketika bagian bawah pantat mama sulit kutarik, mama malah membantunya dengan
mengangkat badannya sedikit sehingga cdnya dengan mudah kupelas dari kedua
kakinya. Lalu sekalian saja kulepas beberapa kancing baju tidur nya yang tersisa
dengan salah satu tanganku dan dengan cepat, kupelas juga kaos dan celana yang
melekat di tubuhku.
Sambil kembali kupijati paha mama, mataku enggak lepas memandang memek
mama yang baru pertama kali ini kulihat. Bulu jembutnya terlihat hanya beberapa
lembar sehingga bentuk memeknya terlihat dengan jelas dan dari celah bibirnya
kulihat sudah berair. Detak jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat
bagian-bagian indah milik mamaku.
Karena enggak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan mama, lalu
kuselonjorkan badanku kebelakang sehingga wajahku pun sudah berada tepat
diatas memek mama tapi tanganku pun masih memijati pahanya walaupun itu
hanya berupa elusan elusan barangkali.
Awalnya sih aku hanya mencoba membaui memek mama dengan hidungku. Ah, ada
bau yang meruap asing di hidungku, segar dan membuatku tambah terangsang.
Eeeh... kuperhatikan mama tetap tenang saja, walaupun nafasnya sudah lebih cepat
dari biasanya.

Ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat di seputar belahan bibir
memeknya yang sudah terlihat basah dari tadi dan terasa asin tapi enak, pinggul
mama tergelinjang keras sehingga hidungku basah terkena cairan mama.
"Aduuuuh Mas!", teriak mama tiba2 dengan suara serak dan tersendat sendat
diantara nafasnya yang sudah memburu. tetapi mama kembali diam dan aku artikan
mama setuju saja dengan apa yang aku lakukan dan walaupun kedua tangannya
memegangi kepalaku.
Tanpa minta izin, segera saja jari-jariku kugunakan untuk membuka bibir vagina
dan memainkan bibir vagina serta daging kecil yang sudah menyembul dari
sela-sela bibir vaginanya.
"Aduh... aaaaaah... aaahhh... Maaaaas", kudengar desahan mama agak keras.
Dapat kurasakan cairan lendirnya yang sudah semakin membasahi vagina mama
yang indah itu. Betapa nikmat rasanya, apalagi dengan desahan mama yang
semakin lama semakin keras, membuatku semakin bersemangat dan mulai kujilati,
kuendus dan kumasukkan hidungku kedalam vaginanya serta kumainkan lidahku di
lobang memek mama.
Mungkin karena keenakan, desahan mama sudah menjadi erangan yang keras dan
rambut kepalaku pun sudah diremas remas mama seraya di tekan tekannya
kepalaku dan pantatnya pun digoyangnya naik turun sehingga seluruh wajahku
terasa basah semua terkena cairan yang keluar dari memek mama. Aku terus saja
memainkan lidahku tetapi tidak berapa lama kemudian bisa kurasakan goyangan
tubuh mama semakin cepat dan nafasnya pun sudah terdengar cepat dan keras
sekali. Tubuh mama mengejang dan akhirnya dia mendesah keras,
"Maaaas... addduuuuh... aaaaaah... ssssh. teee..ruuuuusss..maaas", sambil
kepalaku ditekannya dalam dalam kearah memeknya. Lalu mama terkapar melepas
tangan nya dari kepalaku dengan nafas ngos2an yang cepat dan aku yakin sekali
kalau mama sudah mencapai orgasmenya lagi.
Tanpa disuruh aku segera naik dan tiduran miring menghadapnya disamping mama
yang terlentang dengan nafasnya yang masih cepat.
"Aduuuh"maaas, kamu nakal sekali ya? kamu bikin mama jadi keenakan sampe
lemes sekali", katanya setelah nafasnya agak normal sambil memencet hidungku.
"Mah... booo leeeh enggak aaaa kuuuu?", tanyaku tapi enggak berani meneruskan
kalimatnya, sambil ku usap2 dahi mama yang masih berkerigat. Mudah2an saja
mama mengerti maksudku itu, soalnya penisku sudah tegang sekali.
"jangan ya sayang...", jawab mama seraya mengecup pipiku dan jawaban itu tentu
saja membuatku menjadi sedikit kecewa.
Mungkin mama melihat perubahan wajahku dan karena merasa kasihan, lalu
katanya "...Mas, boleh deh, tapi hanya digesek gesekin saja ya di luar?". Mendengar
jawaban itu membuat hatiku agak lega. Yah... dari pada enggak boleh sama sekali,
padahal rasa kepinginku sudah sampe diujung.
"Sini sayang naiklah", lanjut nya sambil meraih tubuhku untuk naik di atas tubuh
mama dan dari rasa sentuhan dikakiku, terasa mama juga sudah membuka ke dua
pahanya, tapi tidak terlalu lebar.
Tanpa berkata kata, lalu kunaiki tubuh mama dengan penisku yang sudah siap
tempur dengan kepalanya yang mengkilap tegang. Tangan mama sudah memegangi penisku dan mengarahkan batang kemaluanku ke memeknya. Lalu, penisku yang
sedang dipegangnya di gesek2an keatas dan kebawah secara perlahan-lahan di
memeknya yang memang sudah licin dan kupergunakan kesempatan ini untuk
menjilati leher mama.
Aku pun harus bersabar sedikit dan menunggu agar nafsu mama naik kembali
karena sentuhan penisku dimemeknya dan jilatan2 ku di lehernya. Sesekali
kuperhatikan wajah mama dan kulihat mama sedang memejamkan kedua matanya
yang mungkin sedang menikmati gesekan2 penisku di memeknya.
Suatu ketika, mama menghentikan gerakan tangannya dan melepaskan pegangan
tangannya di penisku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar